Home / Tausiyah Al Habib Sholeh Al Attas / Sunahnya Puasa 2 (Sabtu, 21 September 2012)

Sunahnya Puasa 2 (Sabtu, 21 September 2012)

Qolal imam sayyid ahmad bin ummar asy-syatiri fi kitabi..

Ayyaquttun nafis wanafa’ana bihi wabi ulumihi fi daroiyni amin rodiyallahu ankum..ilaa an qola..makruhati shoumi..

مَكْرُوهَاتِ الصوم كثيرة : مِنْها المُبَالَغَةُ فى المَضْمَضَةِ والاِسْتِنْشَاقِ،و ذَوْقُ الطَّعَامِ، والحِجَامَةُ، ومَضْغُ نَحْوِ الْعِلْكِ

Malam ini kita akan melanjutkan pengajian malam rabu kemarin mengenai sunanun shoum. Sunah-sunahnya puasa sudah kita bahas pada malam rabu. Sekarang kita akan membahas tentang makruh-makruhnya puasa.

Semoga bisa bermanfaat ya, saya dan anda diberikan istiqomah sampai ilaa yaumul qiyamat, sayadan panjenengan tetep seneng ngaji sampai tua, jangan sampai saya dan panjenengan dijauhkan  dari ulama. Naudzubillahi mindzalik.

Majelisul khair. Berkat ngaji, insya allah sepualngnya hidupnya makin tertata, rezekinya diberikan keberkahan, keluarganya diberikan ketentraman, yang sudah mempunyai anak, semoga anaknya dikabulkan semua hajatnya oleh Allah SWT, dan bagi yang masih orangtua semoga makin berbakti pada orangtuanya. Ingat ya, untuk masalah orangtua, harus sabar. Jimat yang paling ampuh, mujahadah yang paling ampuh, pesugihan yang paling ampuh, ya di orangtua. Apa saja dan tidak melihat siapa.  Apa preman, ustad, bahkan orang yang tidak pernah sholat sekalipun, kalau masih ada bakti kepada orangtua, insya allah masih ada harapan dan ridho dari gusti Allah.

Saya pernah bercerita kepada abah saya, kalau saya itu punya teman, gaya bicaranya mblandrang, namun dia punya keistimewaan yaitu berbakti kepada orangtuanya dan punya sifat loman(dermawan). Abah pun menuturkan kalau dulu kyai Said Giren pernah dawuh bahwa kalau ada orang, tidak peduli seperti apa macamnya, meskipun tidak pernah sholat, tapi masih ada rasa bakti kepada orangtua dan loman, insya Allah bakal dapat ridhonya Allah.

Orangtua itu mujarab.Pokoknya ingat terus perkataan saya ini kalau tidak percaya. Kalau orang berbakti kepada orangtua, pasti kalauminta atau butuh apa saja dimudahkan oleh Allah SWT. Jadi kalau benar-benar minta pada Allah SWT, menangis pada Allah SWT, lalu orangtua juga diminta untuk berdoa kepada Allah SWT dari hati, pasti itu tembus sampai langit, langsung.

Namun, hal seperti itu tidak mudah. Berbakti kepada orangtua itu betul-betul sesuatu yang sulit sekali. Semoga semua mendapat keberkahannya orang tua ya. Allahumma aamiin.

Selain masalah berbakti kepada orangtua. Saya ingat cerita. Dulu di Tarim ada santri bernama Al Habib Abdurrohman bin Alwi bin Syihab. Orang Palembang. Dia pergi ke Hadramaut, kerjaannya khidmat saja, tidak mengaji, kerjaannya hanya membuat kopi, minuman, hanya itu saja. Orang-orang tarim sampai menghina sebab namanya santri pergi jauh-jauh ke Hadramaut dari Indonesia kerjaannya hanya mengucuri kopi saja. Gara-gara hal tersebut Habib Abdurrohman terenyuh, akhirnya dia tidak melayani untuk membuat minuman lagi, bahkan tidak menampakan diri lagi.

Sampai akhirnya, guru beliau, Al Habib Abdurrohman Al masyhur shohibul Bughyatul Mustarsyidin mencari beliau sebab tidak tampak lagi, yang biasanya rajin membuatkan kopi. Santri-santrinya pun menjelaskan kepada sang guru kalau AL Habib Alwi malu sebab dihina dan tidak mau membuatkan minuman lagi. Atas hal itu, habib Alwi pun dipanggil oleh gurunya dan diberikan nasehat bahwa dia tidak perlu khawatir, sebab suatu saat dialah yang akan melanjutkan kekhalifahan gurunya itu, dia akan menjadi pengganti AL Habib Abdurrohman. Masya Allah ya..

Itu salah satu manfaat bahwa kita harus berkhimat kepada guru. Namun demikian, untuk zaman sekarang, santri itu harus berkhidmat sembari mengaji. Jangan sebab kisah Al Habib Alwi lalu berpikiran,”ah yang penting menyediakan minuman untuk guru saja”. Khidmat harus ada, tapi santri ngaji juga harus.

Di lain hal, orang itu kalau ngaji, tidak terkait santri mukim atau laju, harus ada irtibath(rasa ada ikatan yang kuat) dengan majelis, bahwa ngaji itu tidak sekedar ngaji. Jangan berkata bahwa yang penting datang ke majelis, pulang lalu selesai. Hasilnya itu akan berbeda dengan orang yang ada irtibat dengan mejlis, di mana hatinya terpaut dengan majelisul khaer, jadi nyambung terus. Apa tujuannya? Ya supaya mendapatkan asror. Apa itu asror? Rahasia, sesuatu yang istimewa, biasanya makna khususnya pertolongan Alloh dari jalan yang tidak terduga.

Jadi saya dan anda ngaji bersama-sama karena membutuhkan gusti Allah, Rasulullah SAW. Semoga maksiatnya luntur semua ya. Amiin.

Apalagi ini zaman sedang masya allah ya. Islam sedang dicoba. Seperti diketahui, saat ini, film penghujatan terhadap nabi Muhammad SAW muncul. Kita sebagai umat muslim boleh marah, wajib malah, wajib membela agama Allah. Tatkala nabi kita dihina, hati kita harus betul-betul ingkar. Namun, mengutip pernyataan seorang ulama dari Amerika mengenai apa yang harus dilakukan dalam menanggapi munculnya insiden film tersebut? Jawabannya biarkan saja, jangan terlalu ditanggapi.

Marah dengan hati itu benar. Kita harus betul-betul benci dengan penghinaan tersebut. Tidak boleh kita berkata,”ya sudah tidak apa-apa, hanya begitu saja kok”. Tidak boleh berkata seperti itu. Kita harus mengingkari, benci dengan hal macam itu. Namun, jangan terlalu ditampakan sekali, sebaliknya itu hanya membuat yang menghujat merasa senang.

Logikanya ini seperti anak kecil yang sedang rewel, kalau ditanggapi bakal semakin menjadi. Namun kalau dibiarkan toh akan berhenti dengan sendirinya. Hampir sama kalau ada orang yang membenci kita, jangan ditanggapi. Tidak perlu digubris. Kalau menguti kata-kata Gus Dur,”gitu aja kok repot”.

Teringat pula, dulu saat kasus pelecehan nabi Muhammad SAW melalui karikatur oleh seorang warga Denmark, salah seorang guru saya, Al Habib Ali Al Jufri mendatangi orang tersebut.

Dan ketika bertemu, beliau malah  menyapanya dengan senyum dan tutur kata yang baik. Hingga kartunis tersebut terheran-heran dan bertanya,”Mengapa kamu tidak marah dengan saya? Padahal seluruh oramg di dunia marah dan menghujat saya?”

Habib Ali mnejawab bahwa dia memaklumi si orang Denmark karena dia tidak mengenal siapa itu nabi Muhammad SAW, dan tidak marah karena yang dihinakan itu tidak ada pada diri nabi.

Orang Islam memang sedang dicoba dihancurkan, seperti di Indonesia sendiri. DI Indonesia salah satu caranya ya melalui gaya hidup. Terserah ente mau ngaji, pakai peci putih, yang penting usai pulang dari majelis model pakaiannya mirip orang-orang kafir, keluar celananya pokek, selain itu makanan juga tidak dijaga.

Kembali ke kajian ya,

Makruhnya puasa yakni diantaranya berkumur dan menyedot air kedalam hidung secara berlebihan(terlalu dalam), mencicipi makanan, hijamah(salah satu thibinnabawiy, pengobatan ala nabi), mengunyah sesuatu.

Dalam kaidah fikih, lingkarannya tidak terlepas dari lima hal, yaitu wajib, sunah, makruh, haram, mubah. Seperti halnya dalam tauhid, tidak terlepas dari yang namanya wajib, mustahil, jaiz, atau seperti dalam nahwu(grammar/tata bahasa arob), yaitu isim(kt benda), fi’il(kata kerja), huruf(pelengkap).

Seperti kita ketahui hukum asal berkumur itu kan sunah, namun jika kemudian tidak dilakukan jadi makruh. Bahkan bisa juga menjadi haram, yaitu jika di dalam mulut kita ada kotoran atau najis, namun saat berwudhu kita tidak berkumur. Bisa pula jadi haram, contohnya saat puasa kita meyakini dengan sangat jika kita berkumur, ada kemungkinan besar akan tertelan, maka hukum berkumur dalam berwudhu menjadi haram.

Jadi bagi santri jika melihat suatu hukum jangan sembarangan dengan mantuqul hadits saja.

Itulah manfaatnya belajar fikih, paham dalam hukum akhirnya tidak mudah membuat pendapat subjektif. Jadi seorang santri itu harus belajar keilmiahan.

Kembali ke kajian, berkumur di saat bulan ramadhan itu hukumnya makruh, makruhnya itu ketika berkumur dilebih-lebihkan. Bahkan bisa mendekati haram.

Nah, makruh, sama halnya jika memasak saat bulan ramadhan sedikit mencicipi rasa masakannya. Makruh hukumnya.

Namun kalau misal butuh sekali untuk dicicipi ya tidak apa-apa. Tmisal jika seperti hendak membuat makanan untuk bayi, kalau rasanya terlalu asin kan bahaya.Namun  cara mencicipinya harus benar, ditempelkan ke lidah lalu langsung dibuang, jangan ditelan ke tenggorokan. Jika masuk ke tenggorokan maka batal puasanya.

Oh ya, saya ingat, jika anda punya bayi, usahakan ditahnik ya. Jika ada ulama yang sholeh, bayi dibawa, ambilkan kurma atau daging untuk dimakan oleh kyainya, lalu tempelkan ke mulut si bayi. Tapi ingat, jangan sembarang ulama, jangan ulama yang tidak benar perilakunya, harus yang benar-benar sholeh. Kalau sembarangan ulama, kasihan nanti bayinya, karena bayi itu masih benar-benar suci. Bahkan, sebelumnya maaf, saat persalinan pun, ketika bayi hendak dilahirkan, usahakan yang memegang bayi kali pertama itu orang yang rajin ibadahnya. Maka, jika akan berhasil cari yang tepat tempatnya.

Kembali ke kajian, hal yang makruh dilakukan di bulan puasa itu canduk atau bekam. Bekam itu hukumnya sunah jika dilakukan di luar bulan ramadhan.

Jika berbicara mengenai canduk, teringat kisah di mana usai Rasulullah dicanduk, dan salah seorang sahabat ditugaskan untuk membuang darah bekas candukan rasulullah tersebut, sang sahabat malah meminumnya. Ingat ya, segala hal yang keluar dari diri Nabi Muhammad SAW itu suci, meskipun darah itu hukumnya najis, namun darahnya nabi itu suci, bahkan keringat, air kencing nabi pun hukumnya suci.

Ketika sahabat melapor kepada Rasulullah bahwa dia meminum darah Rasulullah, baginda menjawab,”karena darahku mengalir dengan darahmu maka neraka tidak akan bisa menggapaimu”. Subahanallah. Allohumma sholi alaa sayyidina muhammad.

Mengunyah sesuatu di mulut kalo sampai masuk ya jelas batal.

Di akhir, sebelumnya saya mohon maaf dan minta ridhonya. Alhamdulillah berkat bantuan anda semua, pembangunan pondok hampir selesai. Namun saya ingin minta ridhonya, dulu saat awal meminta sumbangan, saya mengatakan ini untuk pembelian keramik. Namun sekarang keramik sudah usai, dan masih ada sissa. Sisanya barangkali nanti ada yang digunakan untuk hal lain, namun tetap untuk kemaslahatan pondok, seperti membeli keran untuk toilet di pondok atau apa, saya mohon ridhonya.

Kenapa saya mengutarakan ini? Saya ini orangnya was-was. Takut anda tidak ridho, soanya niat awalnya kan untuk keramik.

Semoga ngaji kali ini manfaat ya. Fiddunya wal akhirot. Aamiin.

Check Also

Ribath 1

“Perjuangan Dakwah” oleh Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas – Jum’at, 16 Mei 2014 – di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal

Jum’at malam Sabtu, 9 Mei 2014 rutinan Majelis Ta’lim Ribath Nurul Hidayah diiringi rintik air ...