Home / Tausiyah Al Habib Sholeh Al Attas / Sunahnya Puasa (Selasa, 18 September 2012)

Sunahnya Puasa (Selasa, 18 September 2012)

As-shoum. Sunanu shoumi. Bismmillahirohmanirrohim. Alhamdulillahirobbil a’lamiin. Washolatuwassalamu ‘ala asrofil anbiya’i wal mursalin wa ‘alaa alihi wasohbihi ajmain…

Qolal imam sayyid ahmad bin ummar asy-syatiri fi kitabi..

سُنَن الصَّوْمِ

سنن الصوم كثيرة : مِنْها تَعْجِلُ الفِطْرِ، وَتَأْخِيْرُ السُّحُوْرِ، والْاِفْطَارِ عَلٰى التَّمْرِ، و إِكْثَارُ الْقُرْآنِ، والصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ.

Sunah puasa itu bukan hanya sunah puasa ramadhan yah, tapi di situ mencakup sunah-sunahnya puasa sunah, baik puasa senin kamis atau ayyamul bait atau daud atau puasa apa.

Sunnanu soumi utawi sunnahe puasa iku katsirotun akeh. Arti dari bab di atas adalah bahwasannya sunnah puasa itu banyak, salah satunya mempercepat berbuka, mengahirkan sahur, berbuka dengan tamr (kurma sejenisnya), memperbanyak membaca qur’an. Perbanyak bersodaqoh.

Yang pertama adalah ta’jilul fitri. Tatkala buka puasa itu sunahnya dipercepat ya. Dipercepat dalam arti lain tatkala sudah adzan, hurubisyams, terbenamnya matahari, dalam artian sudah mulai ada adzan maka cepat-cepat berbuka puasa. Walaupun demikian kita harus hati-hati. Di tegal itu ada satu masjid yang biasanya adzannya maghribnya lebih cepat lima menit. Makannya yang menjadi barometer kita di Tegal adalah masjid agung kota tegal. Biasanya patokan lebih jelas, ya di radio. Kalau sudah mendengar adzan, cepat-cepat batalkan.

Mungkin kita pernah mendegar istilah puasa wishol. Rasulullah SAW, beliau diriwayatkan tidak pernah melakukan puasa wishol. Apa itu puasa wishol? Puasa yang dari mulai habis shubuh sampai shubuh lagi tidak makan tidak minum. Istilahnya orang ahli hikmah itu puasa patigeni, jadi malam pun tidak boleh tidur. Tidak boleh makan minum. Ya syaratanya begitu ya. Wallahu’alam.

Sejenak saya teringat, kadang orang itu mempersulir dirinya sendiri.Mirip orang bani israil. Tatkala mereka disuruh mencari anak sapi. Tanya lagi, sapinya yang bagaimana? Dijawab ya sapinya yang betina. Tanya lagi, betinanya yang bagaimana? Akhirnya terus ditumpuk-tumpuk. Makannya kalau orang minta ijazah, misal kyai saya ingin melakukan puasa. Ya sudah kamu melakukan puasa dua hari. Sudah tidak perlu tambah bertanya, puasanya makannya bagaimana, patigeni atau puasa bagaimana? Tidak perlu repot-repot. Puasa tinggal melakukan puasa. Semua itu adalah kembali kepada Allah.

Orang kadang-kadang, maaf sebelumnya, wiridan, puasa sampai berbulan-bulan, bertahun-tahun, tiga tahun, lima tahun puasa. Istilahnya di pondok sarang itu, dalail. Dalailul khoirot. Kadang melaksanakan puasa delapan tahun, tujuh tahun supaya kaya. Pulang dari pondok miskin saja. Dadi ngobos. Tirakatnya santri ya yang benar belajar. Tirakatnya santri itu ngaji, belajar, mengikuti sunahnya kanjeng nabi. Puasa yang sing sunah-sunah saja, senin kamis. Sampai imamul haddad, tapi ingat, ini jangan jadi pegangannya santri yang malas-malas ya. Imamul Haddad itu ahli tarim. Orang-orang tarim itu paling tidak suka kalau ada orang yang memegang tasbih. Khususnya kalau sedang berjalan-jalan. Kalau mau wiridan ya di rumah, di masjid, di kamar megang tasbih sendiri. Tapi kalau sedang jalan-jalan tidak perlu memegang tasbih. Itu imamul Haddad, ahli tarim, tidak suka. Karena apa? Tugasnya santri bukan seperti itu. Tugasnya santri ya mengaji. Kecuali di darul hadits, pondoknya Habib Abdullah. Karena beda yah, Tarim dengan Malang. Kalau di Tarim tidak ada yang membuat mata memandang sembarangan. Kalau di Malang, santri keluar dari pondok sambil baca istighfar, karena di depannya banyak hal yang mengganggu hati kadang-kadang. Misal ya santri ngelirik perempuan ya. Namun ya namanya santri kadang istighfaran lagi-lagi melirik, lagi-lagi melirik.

Saya merasakan di Hadramaut empat tahun, hampir merasakan tidak pernah bertemu perempuan. Bertemu perempuan mungkin bsa dihitung dengan jari, tiga kali atau berapalah. Paling hanya ketika saya pergi ke ibukota karena saya jadi ketua pelajar, akhirnya saya diundang ke acara proklamasi kemerdekaan Indonesia di KBRI Yaman ya. Ya jadi melihat perempuan di Yaman, paling hanya kalau di ibukota. Kalau di Tarim benar-benar terjaga.

Sampai pernah, ketika saaya dakwah di kaum badui di Yaman selama empat puluh hari saya dakwah di sana itu ada suatu saat saya berpapasan dengan perempuan, ibu-ibu sedang membawa bayinya. Perempuan badui itu biasanya kalau sore hari pada bersantai di depan rumah mereka, tapi kalau tahu ada laki-laki lewat, langsung tutupan semua. Hanya terlihat matanya saja.

Mereka itu, sebelumnya maaf ya, memang karena adatnya berbeda. Indonesia dengan Yaman memang adatnya beda. Yaman konsekuen dengan penadapatnya Imam Syafii, kalau Indonesia dengan Imam Rofii. Bukan masalah. Itu tidak apa-apa.Jadi tentang perbedaan dalam beberapa hal, ya tidak apa-apa.

Nah, yang harus diambil dari makna dari Imamul Hadad bahwa tugas santri yang utama itu ngaji. Mencari ilmu. Ilmu itu seperti sekarang, ngaji. Jadi tidak hanya wiridan saja tapi orangnya tidak paham hukum, kitab. Jadi pemahaman ilmiahnya tidak ada. Ketika ditanyakan pemahaman ilmu, syariat, tidak tahu. Itu salah.  Jadi semuanya itu harus seimbang. Kita harus banyak wirid, hatinya dibersihkan dengan wirid, dan juga pikirannya dipenuhi dengan keilmiahan.

Kembali ke masalah puasa, untuk perempuan yang sudah memiliki suami, kalau mau puasa harus izin kepada suami. Tidak boleh perempuan hendak puasa sunah namun tidak izin dengan suaminya.

Untuk masalah lain, misal bib saya waktu bulan ramadhan ada yang bolong tujuh hari, lalu pengin diganti digabung dengan puasa sunah. Silahkan. Niatnya senin kamis, tapi diniati dengan niat qodho. Atau seperti kemarin, pausa enam hari setelah bulan ramadhan, itu diniati denganqodho.

Kita mengenal tasyrikun niat, menggabungkan niat. Niat puasa sunah dan niat puasa qodho. Itu seperti orang hendak masuk ke masjid. Anda masuk masjid, ingin sholat qabliyah dhuhur, digabung dengan sholat tahiyatul masjid.

Jadi sesuatu yang sunah itu boleh, ditasyrikun niat, penggabungan niat. Kecuali, maaf, ada shalat yang haram.  Sholat haram itu misal  tatkala bada sholat shubuh sebelum isyraq,  itu waktu yang tidak diperkenankan melakukan sholat sunah. Haram hukumnya. Kecuali orang yang mempunyai kebiasaan melakukan qabliyah shubuh. Umumnya qabliyah shubuh itu sebelum sholat shubuh ya. Tapi bila kita rutin melakukan qabliyah shubuh, tapi ketika datang ke masjid, imam sudah takbir. Maka datang langsung mengikuti imam. Nah maka tidak apa-apa melakukan sholat qabliyah shubuh dilakukan di waktu ba’diyah shubuh. Namun catatannya bahwa qabliyah shubuhnya itu sudah menjadi kebiasaan.

Jadi sebenarnya haram hukumnya melakukan sholat di waktu bada shubuh, kecuali qabliyah itu tadi. Suatu saat habib Umar pernah sholat shubuh, ada anak sudah sholat qabliyah, sudah shlat tahiyatul masjid. Nah usai sholat shubuh, saat imamnya sedang khutbah, tiba-tiba berdiri seperti hendak sholat lagi, maka Habib Umar langsung menyuruhnya duduk. Karena hukumnya haram melakukan hal seperti itu. LaLu apa yang lebih wajib. Yang lebih wajib ya mendengarkan khutbahnya.

Sama seperti ketika sholat jumah, tatkala imam sedang khutbah. Kita masuk ke masjid, hanya diperbolehkan sholat sunah tahiyatul masjid, kalau mau sholat qabliyah jumat, sholat sunah mutlak, haram hukumnya.

Sebelumnya maaf, walaupun ini pembahasannya mengenai bab puasa namun merembet sampai pembahasan hal seperti ini sebagai pengalaman bab keilmiahan. Supaya anda itu menjadi orang yang tidak terlalu gegabah memutuskan hukum sesuatu itu benar atau salah.

 

Check Also

Ribath 1

“Perjuangan Dakwah” oleh Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas – Jum’at, 16 Mei 2014 – di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal

Jum’at malam Sabtu, 9 Mei 2014 rutinan Majelis Ta’lim Ribath Nurul Hidayah diiringi rintik air ...