Home / Fikrah / Dauroh “Peran Pemuda dalam Dakwah Islam” bersama Syaikh Munir Salim Bazahir, Hadhromaut, Yaman

Dauroh “Peran Pemuda dalam Dakwah Islam” bersama Syaikh Munir Salim Bazahir, Hadhromaut, Yaman

 

Setelah beberapa waktu lalu diadakan Halaqoh Ilmiyyah bersama Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya, dari Hadhromaut, Yaman, yang dihadiri para Asatidz Pondok Pesantren maupun Majelis Ta’lim wilayah Tegal dan sekitarnya, hari itu Selasa, 13 Mei 2014 Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal, kembali mengadakan Dauroh Ilmiyyah dengan peserta para pemuda dari berbagai Majelis Ta’lim di wilayah Tegal yang pada kesempatan ini dengan narasumber Syaikh Munir Salim Bazahir, salah satu staf pengajar Ma’had Darul Musthofa, Hadhromaut, Yaman.

Sejatinya acara dimulai pukul 15.00 WIB atau setelah Sholat Ashar langsung, namun karena kondisi cuaca hujan sehingga menjadikan banyak peserta belum hadir akhirnya acara dimulai pukul 16.30 WIB bertempat di Aula Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal. Turut hadir pula Al Habib Mahdi bin Muhammad Al Hiyed, Pengasuh Majelis Ta’lim Ahbabul Musthofa, Kaligayam, Talang, Tegal, Al Habib Reza bin Muchsin Al Hamid, pengasuh Majelis Ta’lim Darun Nadzir Al Barokat, Tegalwangi, Talang, Tegal, serta Al Habib Ali bin Abdullah Al Atthas, pengasuh Majelis Ta’lim Ahlul Kisa, Pesarean, Adiwerna, Tegal.

Acara dibuka oleh Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas selaku Khodimul Majelis. Beliau menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan dalam acara Dauroh Peran Pemuda dalam Dakwah Islam, acara ini bekerjasama dengan Majelis Al Muwasholah yang dibentuk langsung oleh Guru Mulia Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syaikh Abu Bakar, sehingga harapannya akan terpilih pemuda-pemuda yang mempunyai semangat dakwah dan menambah rasa cinta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Kemudian acara inti tausiyah oleh Syaikh Munir Salim Bazahir yang diterjemahkan oleh Al Habib Helmi Al Kaff. Beliau Syaikh Munir Salim Bazahir memulai tausiyah dengan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Subhanahuwata’ala kepada kita semua, dan mengawalinya dengan niat untuk belajar dan mengambil manfaat sebagaimana niat seperti orang-orang shaleh terdahulu. Salah satu nikmat yang harus kita syukuri adalah nikmat Iman dan nikmat Islam seperti nasehat dari Shahibur Ratib Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Imam Ibnu Abid Dunya dalam Kitab Al Hawatif disebutkan bahwa orang shaleh mampu mendengar suara tetapi tidak melihat siapa yang mengatakannya, termasuk suara dari Malaikat yang menghitung begitu banyaknya pahala orang yang bersyukur atas nikmat Iman dan nikmat Islam yang ia yakini.

Bersyukurlah bagi kita yang pada hari ini diberi nikmat Iman dan nikmat Islam, sementara diluar sana banyak yang tidak mampu mendapat kemuliaan yang sama atas nikmat yang kita rasakan selama ini, oleh karena itu kita diperintahkan oleh Allah Subhanahuwata’ala untuk menyampaikan perjuangan agar Islam itu sampai kepada mereka yang belum bisa merasakannya.

Syaikh Munir Salim Bazahir melanjutkan bahwa banyak dari kita tidak mengetahui betapa mulianya sesuatu benda ketika kita tidak mengetahui manfaatnya, oleh karena itu seandainya kita mengetahui betapa mulianya dan betapa banyak manfaat yang bisa kita ambil dari nikmat tersebut maka kita pasti akan berpegang teguh kepada nikmat Iman dan nikmat Islam.

Nikmat lain yang perlu kita syukuri ialah nikmat bisa melihat dengan mata kita, seandainya kita keluar dari rumah kemudian mata kita tertutup, bayangkan bagaimana susahnya kita berjalan, bagaimana susahnya kita mengetahui apa saja yang ada di depan kita, mungkin ini terlihat sepele bagi kita, tetapi coba anda mempraktekkannya dengan mata tertutup mungkin anda akan menabrak sesuatu yang ada di depan kita karena tidak bisa melihat, maka sungguh itu adalah kemuliaan nikmat yang sangat besar yang diberikan oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Maka Allah Subhanahuwata’ala berfirman :

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

wa-asbagha ‘alaikum ni’amahu zhaahiratan wabaathinatan

“Sungguh Allah telah memberikan nikmat yang sangat banyak baik nikmat Zhahir maupun nikmat Bathin” (QS. Luqman : 20)

Dalam firman Allah SWT yang lain juga disebutkan :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Wamaa bikum min ni’matin faminallah

“Sesungguhnya segala nikmat yang ada pada dirimu itu datangnya dari Allah SWT” (QS. An Nahl : 53)

Disebutkan juga dalam ayat lain :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ

La-in syakartum aziidannakum

“Sungguh bila kamu bersyukur atas segala nikmatmu, maka pasti Allah akan menambah nikmat itu kepadamu” (QS. Ibrahim : 7)

Lalu apakah kita mampu satu hari saja hidup tanpa bisa melihat apapun yang biasa kita lihat ? Sungguh sangat tidak enak apabila kita tidak bisa melihat dengan mata kita. Hal seperti inilah yang sering kita lupakan padahal nikmat seperti ini keadaannya sangat dekat dengan kita.

Nikmat lain misalnya nikmat penciuman dimana kita bisa mencium bau sesuatu yang ada di sekitar kita, nikmat mendengar, dan berbagai nikmat lain yang ada dalam tubuh kita. Maka mukjizat besar yang ada di seluruh alam adalah “Manusia”. Begitu banyaknya nikmat yang ada dalam tubuh kita bagaikan saluran darah kita bagaikan saluran air yang mengalir di sungai-sungai yang ada di seluruh muka bumi ini, badan kita bagaikan gunung-gunung yang kokoh, sehingga tubuh kita menggambarkan keadaan seluruh makhluk yang ada di alam sekitar kita. Maka tidak ada yang mampu memberikan hal tersebut yang begitu besar kecuali Allah Subhanahuwata’ala. Bahkan orang yang menggunakan teknologi secanggih apapun tidak mampu menciptakan hidung seperti hidung kita, tidak akan mampu menciptakan telinga seperti telinga kita, tidak akan mampu menciptakan gigi seperti gigi kita, mereka semua sungguh tidak akan mampu melakukannya, bahkan mereka yang pada masa ini bisa melakukan cangkok jantung dalam bidang kesehatan pun tak akan mampu menciptakan jantung sesempurna jantung yang diciptakan Allah Subhanahuwata’ala.

Oleh karena itu jika kita mengetahui hal tersebut, sungguh keagungan, kemuliaan, dan yang Maha mampu itu hanyalah Allah Subhanahuwata’ala.

Maka apabila kita sudah mengetahui begitu agungnya nikmat yang diberikan Allah SWT, kita harus berpikir timbal balik apa yang akan kita lakukan untuk Allah Subhanahuwata’ala ?

Yang harus dilakukan kita ialah membawa ajaran Allah SWT ini sampai kepada semua orang yang ada di dunia ini. Perkataan yang paling mulia disisi Allah ialah perkataan tentang membawa ajaran dan mengajak kepada Allah Subhanahuwata’ala.

Firman Allah dalam Al Qur’an :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ

“Waman ahsanu qoulan mimman da’aa ilallah”

“Siapakah orang yang lebih baik perkatannya daripada orang yang menyeru kepada Allah Subhanahuwata’ala” (QS. Fushilat : 33)

Apabila ucapan kita ingin dianggap sebagai ucapan yang paling baik, maka jadikanlah ucapan kita untuk mengajak ke jalan Allah Subhanahuwata’ala. Sebaliknya apabila ucapan kita berisi ucapan yang menolak ajaran Allah SWT, maka kita dianggap manusia yang paling hina dan paling rendah derajatnya.

Rasulullah SAW bersabda,“Sungguh apabila engkau memberikan hidayah kepada satu orang saja maka itu lebih berharga dibandingkan harta yang ada di dunia ini”.

Kemudian Syaikh Munir Salim Bazahir bertanya kepada peserta dauroh :

“Apakah anda semua siap mengajak orang untuk mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahuwata’ala ?

Dengan kompak peserta dauroh menjawab, “Insya Allah…”

Lalu beliau bertanya lagi :

“Apakah kalian mempunyai semangat untuk mengajak kebaikan kepada orang lain ?”

Dijawab lagi, “Insya Allah…”

Apabila kalian memiliki kesiapan dan semangat untuk memberikan hidayah kepada orang lain, sungguh kalian akan mendapatkan kabar gembira bahwa kalianlah pewaris para nabi karena sesungguhnya para nabi telah mewariskan ilmu yang mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Sebelum kita memberi hidayah kepada orang lain, maka kita perlu memberi hidayah kepada diri kita sendiri terlebih dahulu. Seperti dalam Doa Qunut “Allahummahdinii fiiman hadait”, Ya Allah berikanlah hidayah kepada diriku. Kita juga perlu mendoakan hidayah kepada orang-orang disekitar kita yang belum mengenal Allah SWT.

Ada beberapa pondasi yang harus kita miliki sebelum memberikan hidayah kepada orang lain diantaranya :

1. IKHLAS

Pondasi awal yang paling utama ialah ikhlas dimana dalam memberikan hidayah itu semata karena Allah SWT bukan karena yang lainnya. Dakwah yang tidak ikhlas justru lebih banyak mendapat mudhorotnya daripada manfaatnya.

2. ILMU

Bagaimana mungkin orang yang mengajak ke jalan Allah akan tetapi dia tidak tahu akan hukum-hukum Allah ?

3. KASIH SAYANG

Tidak akan mungkin orang bisa mengajak ke jalan Allah dengan sempurna dan maksimal, kecuali hatinya dipenuhi rasa kasih sayang kepada orang lain.

4. SALING MEMBANTU

Pondasi yang keempat ialah saling membantu dan tolong menolong dalam kebaikan, serta mengambil manfaat dari orang-orang shaleh di sekitar kita.

5. INTROSPEKSI DIRI

Pondasi kelima ialah terus mengoreksi kebaikan yang telah kita lakukan apakah sudah ikhlas atau belum, dan mengoreksi keburukan yang dilakukan kita agar bisa diperbaiki kedepannya, salah satu caranya ialah dengan selalu menerima saran, kritik, dan masukan dari orang-orang disekitar kita.

 

Apabila kita sudah memiliki kelima pondasi di atas, maka sejatinya kita telah siap untuk memberikan hidayah kepada orang-orang di sekitar kita karena sesungguhnya agama adalah nasihat agar kita mendapat kemuliaan atas apa yang kita lakukan dalam mengajak ke jalan Allah Subhanahuwata’ala. Maka jadilah orang yang mengajak ke jalan Allah dan orang yang selalu mengingatkan dirinya kepada Allah SWT. Dan mulai detik ini ucapkanlah,”Aku niat untuk memberikan hidayah kepada semua orang di muka bumi ini”. Karena meski kita baru melakukan niat yang kita ucap tadi, sesungguhnya pahalanya sebanyak orang yang ada di muka bumi ini, itu baru niatnya saja apalagi sampai melakukannya.

Acara pun terhenti karena waktu Sholat Maghrib sudah tiba, para peserta Dauroh melaksanakan sholat Maghrib berjamaah di Masjid Baiturrokhim. Syaikh Munir Salim Bazahir meminta maaf barangkali bahasannya sangat panjang karena memang hal penting seperti ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit dengan uraian yang tersusun secara sistematis.

Setelah sholat maghrib Syaikh Munir Salim Bazahir melanjutkan tausiyahnya diawali dengan menceritakan dahulu para sahabat berdakwah dengan segala daya upaya baik akal, pikiran, tenaga, harta, bahkan nyawa sekalipun. Perjuangan para sahabat dahulu jauh lebih sulit dibandingkan perjuangan dakwah di masa sekarang ini.

Dikisahkan sahabat Abu Bakar As Shidiq radhiyallohu’anhu menyerahkan seluruh hartanya untuk berdakwah bersama Rasulullah SAW dan hanya meninggalkan Allah dan Rasulullah kepada keluarganya. Sejak saat itu para sahabat berbondong-bondong menyerahkan hartanya untuk dakwah di jalan Allah. Maka berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk berjuang membawa ajaran Nabi Muhammad SAW ? berapa banyak harta yang dipergunakan untuk jalan dakwah Rasulullah SAW ? Barangsiapa dari kalian seluruh waktunya dan seluruh kemampuannya digunakan untuk menegakkan agama Allah SWT, maka sesungguhnya Allah dekat dengan dirinya di setiap waktu.

Syaikh Munir Salim Bazahir menyampaikan point penting dari semua penjelasan di atas yaitu :

  1. Nikmat yang paling mulia adalah nikmat Islam
  2. Kita harus bersyukur atas nikmat dari Allah dengan cara mengajak orang ke jalan Allah karena zakatnya orang Islam adalah berdakwah kepada orang Islam
  3. Sesungguhnya seorang Dai yang menyeru kepada Allah SWT itu orang yang paling baik karena merekalah para pewaris nabi.
  4. Mengajak ke jalan Allah itu lebih berharga daripada matahari terbit di muka bumi
  5. Seorang Dai baik laki-laki maupun perempuan sesungguhnya mereka orang yang dijaga oleh Allah SWT dengan sebaik-baik penjagaan.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kuntum khaira ummatin ukhrijat li-nnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi watanhauna ‘anil munkari watu’minuuna billahi

“Kalian semua adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yaitu umat yang menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran : 110)

 

Acara dilanjutkan dengan sesi Tanya Jawab, ada 3 penanya yaitu :

A. Ust. Baihaqi

1. Bagaimana cara agar umat bisa langsung mempraktekkan apa yang telah disampaikan ?

2. Kapan kita bisa mulai berdakwah sedang posisi kita sendiri masih dalam taraf mencari ilmu ?

B. Ust. Ali Afif

3. Bagaimana cara agar dalam berdakwah bisa ikhlas dan istiqomah ?

C. M. Nasikhul Amin

4. Mengapa dalam ayat “Kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnaasi dst” kalimat “Iman kepada Allah” ditempatkan di nomor 3 setelah menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran ?

5. Mengapa Allah menyebut dalam firman-Nya “Sebagian KECIL orang yg mampu bersyukur” tidak  “Sebagian BESAR orang yg mampu bersyukur” ?

 

Jawaban dari Syaikh Munir Salim Bazahir :

  1. Kita hanya ditugaskan untuk menyampaikan, mengenai mereka mau melakukan atau tidak itu sudah urusan Allah, dan doakan semoga Hidayah Allah diberikan kepada mereka. Allah akan murka apabila kita hanya mementingkan diri kita sendiri sedangkan umat dibiarkan melakukan maksiat, maka mulailah berdakwah dengan “himmah” (semangat) mengharap kebaikan dari Allah SWT.
  2. Sebenarnya ketika dalam taraf mencari ilmu pun kita sudah termasuk dalam berdakwah, tidak harus menunggu lulus terlebih dahulu. Karena setiap kali kita mendapat satu pelajaran yang dipahami kita, maka sudah wajib bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain. “Sampaikanlah walau 1 ayat”
  3. Mulailah dakwah kepada diri kita sendiri, kemudian kepada orang-orang terdekat kita, perbanyak dzikir, lalu belajar ikhlas dari hal yang paling sederhana, lakukanlah itu terus secara berkesinambungan hingga menjadi istiqomah setiap waktunya
  4. Tidak ada amal yang bisa diterima kecuali bagi mereka yang beriman kepada Allah SWT. Agama adalah nasihat. Tingkatan amal yang bisa menjadikan KUAT ialah amar ma’ruf terlebih dahulu, mencegah perbuatan mungkar, kemudian IMAN kita bisa semakin mantap dan kuat.
  5. Bersyukur merupakan hal yang paling terperinci dalam hal nikmat, maka orang yang MAMPU memerinci segala nikmatnya itu sangat jarang dan langka, akan tetapi orang-orang seperti inilah yang akan mendapat pertolongan Allah SWT

 

Di akhir acara beliau berkata bahwa dirinya datang sebagai saudara bukan sebagai guru, beliau ingin mendapatkan manfaat sebelum memberikan manfaat kepada orang lain. Dan beliau meminta maaf kepada peserta dauroh karena pembahasannya sangat panjang dan membutuhkan waktu yang cukup lama, beliau meminta maaf kepada Al Habib Mahdi bin Muhammad Al Hiyed dan Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas barangkali banyak kesalahan dalam menyampaikan tausiyahnya dan mendoakan Habib Mahdi dan Habib Sholeh dipanjangkan umurnya dan diberi keberkahan oleh Allah SWT. Sedianya acara ditutup dengan doa oleh Al Habib Mahdi bin Muhammad Al Hiyed, namun beliau menyarankan agar Syaikh Munir saja yang berdoa untuk mendapat keberkahan dari Ahlu Tarim. Kemudian Syaikh Munir memimpin doa, setelah doa para peserta dauroh bersalaman dengan Syaikh Munir Salim Bazahir, acara berakhir sekitar pukul 19.15 WIB, kemudian dilanjutkan sholat Isya berjamaah.

Check Also

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *