Home / Fikrah / Kenikmatan Hadir dalam Majelis Ilmu oleh Syaikh Munir Salim Bazahir, Yaman – Selasa, 13 Mei 2014 – di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal

Kenikmatan Hadir dalam Majelis Ilmu oleh Syaikh Munir Salim Bazahir, Yaman – Selasa, 13 Mei 2014 – di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal

Rutinan Syaikh Munir 2

Ribath Nurul Hidayah kedatangan tamu agung dari Hadhromaut, Yaman, yaitu Syaikh Munir Salim Bazahir, setelah pada sore harinya beliau mengisi dauroh bersama 100 lebih pemuda yang punya semangat dakwah yang tinggi. Meski suasana diiringi rintik air hujan namun tak melunturkan semangat para jamaah untuk tetap khusyu mengikuti pembacaan Maulid Ad Dhiyaul Lami’.

Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas membuka kajian dengan niat “tholabul ‘ilmi” bersama para jamaah, kemudian berdoa semoga setiap tetesan air hujan menjadi saksi kita di yaumil qiyamah, semoga hajat kita dikabulkan oleh Allah.

Kajian pada rutinan malam Rabu ini disampaikan oleh Syaikh Munir Salim Bazahir, Pengasuh Ma’had Darul Musthafa, Hadhromaut, Yaman, dan diterjemahkan oleh Habib Helmy Al Kaff. Di tengah kepadatan jadwal dakwah di Indonesia dan Malaysia Syaikh Munir Salim Bazahir.

Beliau memulai ceramah dengan mengucapkan syukur ke hadirat Allah Subhanahuwata’ala atas anugerah-Nya dan bersholawat kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau menyampaikan manusia saat ini terbagi menjadi 2 golongan, golongan pertama yaitu golongan yang membela perjuangan dakwah Rasulullah SAW, mereka ini adalah golongan yang cinta kepada Allah dan Allah pun cinta kepadanya, dan semoga kita semua termasuk dalam golongan tersebut, sedangkan golongan kedua yaitu golongan yang jauh dari rahmat dan anugerah dari Allah SWT, dan kita harus bersyukur bahwa saat ini kita dijauhkan dari golongan tersebut.

Melalui Majelis dzikir kepada Allah dan pembacaan sholawat kepada Rasulullah semoga kita benar-benar mendapat rahmat dari-Nya, karena Rasulullah bersabda bahwa majelis majelis seperti ini mendorong kita untuk dekat kepada Allah. Imam An Nawawi dalam Kitab Al Adzkar menjelaskan sebuah Hadits dimana Rasulullah bersabda “Apabila kalian melewati taman-taman surga, hendaklah kalian singgah”, kemudian Rasulullah ditanya para Sahabat, “Apa itu taman-taman surga Wahai Rasulullah ?”, Lalu Rasulullah menjawab, “Taman-taman surga yaitu perkumpulan yang di dalamnya terdapat Dzikir kepada Allah SWT”.

Dan hadirnya kita disini merupakan ciri taman surga yang disebut Rasulullah tadi, dimana Rasulullah berbicara kecuali dengan ucapan yang benar dan tidak mengikuti hawa nafsunya. Dan barangsiapa yang sering singgah di taman surga seperti ini, Insya Allah akan dikumpulkan di surga yang sebenarnya di akhirat nanti karena hasil dari majelis ta’lim adalah surga.

Ini salah satu bukti kecintaan kami kepada Allah dan Rasulullah dengan berdzikir kepada-Nya dan bersholawat kepada Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda “Perbanyaklah sholawat kepadaku, karena sesungguhnya sholawat itu sampai kepadaku”. Apabila sholawat kita sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah pun akan senang dengan kita, apabila Rasulullah senang dengan kita maka Allah pun akan menyukai kita dan segala hajat kita akan dikabulkan oleh Allah SWT, disitulah perlunya kita hadir dalam majelis seperti ini dengan hati yang bersih dan ikhlas. Barangsiapa yang memiliki pendengaran yang sangat mulia, sungguh pasti akan mendengar sanubarinya bahwa Rasulullah SAW telah bersumpah “Sungguh aku telah mencintai kalian, sungguh aku telah mencintai kalian, sungguh aku telah mencintai kalian”.

Kita semua datang dari tempat yang jauh ke tempat yang mulia ini, meluangkan waktunya untuk hadir ke tempat ini, meninggalkan pekerjaannya untuk hadir ke tempat ini, maka sungguh Rasulullah SAW mengamati hadirnya kita ini. Rasulullah pun berdoa kepada Allah agar yang hadir di majelis ini dikumpulkan bersama di surga-Nya Allah SWT.

Ini adalah salah satu bentuk kedermawanan Rasulullah kepada umatnya, sampai suatu kisah pelepah kurma pun rindu kepada Rasulullah SAW, pada waktu itu pelepah kurma yang dipakai untuk khutbah Jum’at Rasulullah suatu waktu tidak dipakai oleh beliau, maka pelepah tersebut menangis seperti halnya anak kecil yang menangis karena ditinggal ibunya, bahkan sahabat pun mendengar tangisan pelepah kurma tersebut, melihat hal itu Rasulullah kemudian memeluk pelepah kurma itu dan berkata “Relakah engkau bersamaku di surga nanti ?”, maka pelepah kurma itu berhenti menangis.

Sungguh semua yang ada di dunia ini baik langit, bumi, gunung, air, tanah, dan batu-batuan semuanya akan lenyap dan musnah dimakan usia, yang tidak lenyap yaitu kecintaan dan keterikatan kita kepada baginda Rasulullah SAW.

Kita jangan cepat puas dengan kecintaan yang kita miliki, ajarkanlah kecintaan ini kepada mereka yang belum mengerti bagaimana nikmatnya mencintai baginda Rasulullah SAW. Bila kita melakukan demikian maka sungguh di akhirat nanti Rasulullah akan bersaksi bahwa “Orang ini dulu sering bolak-balik berangkat majelis, mereka rela membuang waktunya untuk berdzikir kepadaku dan bersholawat kepadaku, ada yang naik motor, ada yang jalan kaki, ada yang naik mobil, dan semua itu karena kecintaan mereka kepadaku, maka aku bersaksi memohon kepadamu Ya Allah masukkanlah mereka ke surga bersamaku”.

Ini adalah anugerah besar yang diberikan Allah kepada orang yang hadir di majelis ini, oleh karena itu hendaklah anugerah yang besar seperti ini hendaklah kita jaga dan jangan dinikmati sendiri saja, berikan anugerah ini kepada orang lain yang belum bisa merasakan anugerah besar ini. Sungguh tidak ada pakaian yang kita kenakan ini kecuali pakaian kecintaan kita kepada baginda Nabi Muhammad SAW, maka sungguh sebaik-baik pakaian adalah pakaian orang-orang yang memiliki ketakwaaan yang tinggi kepada Allah Subhanahuwata’ala.

Di akhir ceramahnya Syaikh Munir Salim Bazahir mendoakan agar para ulama dan habaib yang hadir di majelis ini diberi keberkahan oleh Allah SWT dan orang yang hadir di majelis ini agar dijadikan sebagai orang yang dekat dengan Allah SWT dan orang-orang yang membuat bahagia Rasulullah SAW.

Rutinan malam selasa kali ini ditutup dengan doa oleh Al Habib Mahdi bin Muhammad Al Hiyed, salah satu alumni angkatan pertama Ma’had Darul Musthafa, Hadhromaut, Yaman.

Rutinan Syaikh Munir 2 Rutinan Syaikh Munir 1

Check Also

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *