Home / Tausiyah Al Habib Sholeh Al Attas / Peristiwa Isra Mi’raj (bagian 2) – Selasa, 6 Mei 2014 – oleh Al Habib Sholeh bin Ali Al Attas di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal

Peristiwa Isra Mi’raj (bagian 2) – Selasa, 6 Mei 2014 – oleh Al Habib Sholeh bin Ali Al Attas di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal

1

Selasa Malam Rabu adalah hari yang istimewa bagi para muhibbin yang rindu akan ketenangan hadir dalam Majelis Ilmu. Mereka berduyun-duyun mendatangi halaman Ribath Nurul Hidayah untuk berdzikir, bersholawat, dan mendengarkan nasihat dari guru mulia Al Habib Sholeh bin Ali Al Attas.

Untaian doa-doa dalam Ratib Al Attas mengawali Ta’lim malam Rabu ini, dilanjutkan dengan membacakan kisah hidup Rasulullah SAW dalam rangkaian bait Maulid Ad Dhiyaul Lami’, para hadirin ikut terhanyut dalam lantunan sholawat yang disenandungkan oleh para santri.

Tiba saatnya acara yang ditunggu-tunggu, para hadirin menyiapkan buku, kertas, bolpoint, pensil ataupun alat tulis lain untuk mencatat nasihat-nasihat indah penyejuk hati. Tak jarang dari mereka menyiapkan alat komunikasi untuk merekam isi ceramah yang disampaikan dengan lembut dan santun.

Al Habib Sholeh bin Ali Al Attas memulai tausiyah dengan memanjatkan doa agar hati kita dibersihkan dari ujub, sombong, dengki dan hasad. Tak lupa beliau berdoa agar akhlak kita diubah oleh Allah SWT, dari ahli maksiat menjadi ahli ibadah, dari yang kurang menjaga lisannya menjadi dijaga lisannya, dari yang sombong menjadi tawadhu’.

Semoga kelak kita dipertemukan dalam Surga-Nya Allah SWT, semoga kelak kita betul-betul menjadi ahli Surga-Nya Allah SWT, semoga kelak kita dikumpulkan bersama Rasulullah SAW, dan semoga hati kita dan segala kehidupan kita dihiasi dengan akhlak Baginda Nabi Muhammad SAW meskipun hanya sekedar keluar dari kamar mandi dengan kaki kanan dan masuk dengan kaki kiri kita selalu ittiba’ Rasulullah SAW, makan dan minum tidak dengan berdiri. Kecuali saat minum air Zamzam ada sebuah riwayat untuk boleh meminum air Zamzam dengan berdiri, tetapi duduk itu lebih utama karena mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.

Ada seorang ulama besar dari Uni Emirat Arab yang betul-betul mencintai Sayyidil Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz BSA yaitu Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Jufri, beliau murid dari Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf. Al Habib Ali Al Jufri sangat kagum dan tertegun dengan Sayyidil Habib Umar bin Hafidz BSA, pernah suatu ketika dalam satu pertemuan Al Habib Ali Al Jufri melihat seseorang yang minum dengan duduk padahal semura orang yang hadir minumnya dengan berdiri, lalu beliau bertanya kepada seseorang siapakah orang itu ? Dialah Sayyidil Habib Umar bin Hafidz BSA, begitu terkesan beliau dengan menghidupkan Sunnah Nabi meski dengan perkara yang sepele.

Melihat kisah itu, harapannya kita saat mengadiri majelis ilmu harus mempunyai sikap ittiba’ dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, agar hati kita merasa butuh dengan Allah dan merasa butuh dengan Rasulullah SAW.

Sebab segala amal kita itu merupakan kehendak dari Allah Subhanahuwata’ala. Bagaimanapun rajinnya amal ibadah kita jika tidak ada rahmat dari Allah niscaya amal tersebut hanya akan sia-sia belaka. Maka kita berharap agar kelak di yaumil Qiyamah nanti bisa mendapatkan Rahmat dari Allah Subhanahuwata’ala.

Semakin bertambah usia kita semakin berbobot ilmunya, seperti Syaikhuna wa Murobbina Mbah Maimun Zubair yang saat ini sudah berusia 89 tahun namun masih menjadi cahaya bagi umat Islam, semakin tawadhu’, semoga beliau dipanjangkan umurnya dan diberi keberkahan oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Kemudian Abuya Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas melanjutkan kisah pada pertemuan sebelumnya, ketika di Masjidil Aqsha Rasulullah ditawari dua air minum oleh Malaikat Jibril yaitu arak dan susu lalu Rasulullah memlilih air susu. Setelah itu dengan naik Buraq beliau bersama Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Adam ‘Alaihissalam di pintu langit pertama.

Jibril meminta izin agar pintu langit pertama dibuka, maka malaikat yang menjaga bertanya:
“Siapakah ini?”

Jibril menjawab: “Aku Jibril.”

Malaikat itu bertanya lagi: “Siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab: “Muhammad saw.”

Malaikat bertanya lagi: “Apakah beliau telah diutus (diperintah)?”

Jibril menjawab: “Benar”.

Setelah mengetahui kedatangan Rasulullah malaikat yang bermukim disana menyambut dan

memuji beliau dengan berkata:

“Selamat datang, semoga keselamatan menyertai anda wahai saudara dan pemimpin, andalah sebaik-baik saudara dan pemimpin serta paling utamanya makhluk yang datang”.

Fahamlah kita dari ucapan ini, tidak ada satupun makhluk yang lebih mulia menginjak langit

pertama melebihi Sayyidina Muahmmad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dibukalah pintu langit dunia ini”.

Setelah memasukinya beliau bertemu Nabi Adam dengan bentuk dan postur sebagaimana pertama kali Allah menciptakannya. Nabi saw bersalam kepadanya, Nabi Adam menjawab salam

beliau seraya berkata:

“Selamat datang wahai anakku yang sholeh dan nabi yang sholeh”.

Di kedua sisi Nabi Adam terdapat dua kelompok, jika melihat ke arah kanannya, beliau tersenyum dan berseri-seri, tapi jika memandang kelompok di sebelah kirinya, beliau menangis dan bersedih. Kemudian Jibril AS menjelaskan kepada Rasulullah, bahwa kelompok disebelah kanan Nabi Adam adalah anak cucunya yang bakal menjadi penghuni surga sedang yang di kirinya adalah calon penghuni neraka.

Di langit kedua Rasulullah dan Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam ‘Alaihissalam dan Nabi Yahya bin Zakariya ‘Alaihissalam, keduanya hampir serupa baju dan gaya rambutnya. Nabi saw menyifati Nabi Isa bahwa dia berpostur sedang, putih kemerah-merahan warna kulitnya, rambutnya lepas terurai seakan-akan baru keluar dari hammam, karena kebersihan tubuhnya. Nabi bersalam kepada keduanya, dan dijawab salam beliau disertai sambutan: “Selamat datang wahai saudaraku yang sholeh dan nabi yang sholeh”.

Kemudian tiba saatnya beliau melanjutkan ke langit ketiga, setelah disambut baik oleh para malaikat, beliau berjumpa dengan Nabi Yusuf bin Ya’kub ‘Alaihissalam. Beliau bersalam kepadanya dan dibalas dengan salam yang sama seperti salamnya Nabi Isa. Nabi berkomentar: “Sungguh dia telah diberikan separuh ketampanan”. Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Dialah paling indahnya manusia yang diciptakan Allah, dia telah mengungguli ketampanan manusia lain ibarat cahaya bulan purnama mengalahkan cahaya seluruh bintang”.

Ketika tiba di langit keempat, beliau berjumpa Nabi Idris ‘Alaihissalam. Kembali beliau mendapat jawaban salam dan doa yang sama seperti Nabi-Nabi sebelumnya.

Di langit kelima, beliau berjumpa Nabi Harun bin ‘Imran AS, separuh janggutnya hitam dan seperuhnya lagi putih (karena uban), lebat dan panjang.

Pada tahapan langit keenam inilah beliau berjumpa dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam, seorang nabi dengan postur tubuh tinggi, putih kemerah-merahan kulit beliau. Nabi saw bersalam kepadanya dan dijawab oleh beliau disertai dengan doa. Setelah itu Nabi Musa AS berkata: “Manusia mengaku bahwa aku adalah paling mulyanya manusia di sisi Allah, padahal dia (Rasulullah SAW) lebih mulya di sisi Allah daripada aku”. Setelah Rasulullah melewati Nabi Musa AS, beliau menangis. Kemudian ditanya akan hal tersebut. Beliau menjawab: “Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus jauh setelah aku, tapi umatnya lebih banyak masuk surga daripada umatku”.

Kemudian Rasulullah SAW memasuki langit ketujuh, di sana beliau berjumpa Nabi Ibrahim AS sedang duduk di atas kursi dari emas di sisi pintu surga sambil menyandarkan punggungnya pada Baitul Makmur. lantas Rasulullah SAW berkata pada Jibril, “Apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata : “ini Baitul Ma’mur, 70 ribu malaikat shalat setiap harinya dan keluar dari Baitul Ma’mur 70 ribu dan tidak pernah kembali lagi terus keluar 70 ribu tepat diatas ka’bah al Musyarrafah tempatnya”

Demikian kisah perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Baitul Maqdis hingga langit ketujuh. Insya Allah akan berlanjut pada pertemuan berikutnya.

WALLOHU A’LAM BISSHOWAB
— Insya Allah bersambung bagian ketiga —-

 

2

3

Check Also

Ribath 1

“Perjuangan Dakwah” oleh Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas – Jum’at, 16 Mei 2014 – di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal

Jum’at malam Sabtu, 9 Mei 2014 rutinan Majelis Ta’lim Ribath Nurul Hidayah diiringi rintik air ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *