Home / Fikrah / “Perjuangan Dakwah” oleh Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas – Jum’at, 16 Mei 2014 – di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal

“Perjuangan Dakwah” oleh Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas – Jum’at, 16 Mei 2014 – di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah, Bedug, Pangkah, Tegal

Ribath 1

Jum’at malam Sabtu, 9 Mei 2014 rutinan Majelis Ta’lim Ribath Nurul Hidayah diiringi rintik air hujan yang kian malam kian deras hujannya. Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas pun sebelum memulai pembacaan Maulid Ad Dhiyaul Lami’ berdoa “Semoga setiap tetesan air hujan menjadi saksi kita di yaumil qiyamah, semoga hajat kita dikabulkan oleh Allah”. Ketika Mahalul Qiyam hujan semakin deras, berduyun-duyun jamaah menuju ke tempat berteduh, ada yang merapat mendekat ke mimbar, ada yang  merapat ke Masjid, ada yang merapat ke selasar bangunan pondok pesantren, tetapi ada juga yang bertahan menengadahkan tangan ke atas sambil menikmati tetesan air hujan dan mengharap rahmat dari Allah Subhanahuwata’ala.

Beliau memulai ceramah dengan berdoa semoga yang hadir di majelis diberikan rahmat dan keberkahan oleh Allah Subhanahuwata’ala. Duduknya kita di majelis ini tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya di masa dahulu sampai titik darah penghabisan. Ada seorang wanita muslimah berjuang untuk ajaran Nabi Muhammad dalam suatu peperangan semuanya terbunuh, termasuk wanita ini ditusuk hingga badannya tertembus, semua itu dilakukan karena kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah. Sahabat Bilal bin Rabah dahulu dipanggang oleh mereka yang membenci Islam bahkan sampai hendak dibunuh, tetapi beliau tetap kokoh mempertahankan iman kepada Allah dan Rasulullah. Semoga duduknya kita di majelis ini mendapat Ridho dari Allah Subhanahuwata’ala, semoga dapat menyenangkan hati Baginda Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam.

Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas meminta maaf kepada jamaah yang hadir karena belum bisa memberikan fasilitas yang nyaman kepada jamaah Ribath Nurul Hidayah hingga sampai kehujanan seperti ini. Kita semua pengin bersama mengungkapkan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, pengin bersama-sama tatkala membacakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam mendapatkan ketentraman. Beliau mempunyai majelis ta’lim bukan karena apa-apa, ada pesantren pun bukan karena siapa-siapa, tetapi beliau meminta ridho kepada Allah Subhanahuwata’ala, selain itu juga karena perintah guru.

Dulu waktu beliau di Hadhromaut, Yaman, beliau melihat dakwahnya Guru Mulia Sayyidil Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ketika membawa santrinya ke makam Sayyid Al Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa, tatkala Sayyidil Habib Umar bin Hafidz ceramah di tempat itu sering terjadi badai angin yang disertai pasir dimana apabila mengenai mata mungkin mata kita akan sakit, hampir semua santrinya menutup matanya, tetapi Subhanallah beliau Sayyidil Habib Umar bin Hafidz tetap kokoh berdiri menyampaikan tausiyah kepada jamaahnya di tengah badai pasir yang mengelilingi tempat itu.

Kisah lain bagaiamana Al Imam Ja’far At Thoyyar radhiyallahu’anhu diberi amanah oleh Rasulullah sebuah bendera dan diminta untuk tidak melepas bendera itu walau bagaimanapun keadaannya sampai-sampai darah menetes dari beliau Al Imam Ja’far At Thoyyar karena tangan beliau diputus oleh orang kafir hingga beliau terbunuh. Itu semua karena cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam.

Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas juga menceritakan bagaimana dulu Almarhum Habibana Munzir bin Fuad Al Musawa dakwah dengan segala jiwa dan raganya demi memperjuangkan agama Allah dan mengungkapkan kecintaanya kepada Rasulullah, sampai-sampai Habibana Munzir bin Fuad Al Musawa diberi julukan oleh Guru mulia Sayyidil Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dengan sebutan “Sulthonul Qulub”.

Di tengah derasnya air hujan yang turun Al Habib Sholeh bin Ali Al Atthas meneruskan ceramah dengan bersholawat burdah “Maulaya Sholli Wasallim Daiman Abadaa, ‘Alaa Habibika Khoiril Kholqi Kullihiimi”, kemudian jamaah mengikutinya dengan khidmat.

Setiap apa yang kita lakukan di dunia akan dijadikan saksi di hadapan Allah. Tempat yang kita pijak dan baju yang kita pakai hingga basah ini semoga kelak menjadi saksi di hadapan Allah Subhanahuwata’ala bahwa kita sedang melakukan kebaikan. Dan semoga hajat kita semua dikabulkan oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Setelah itu beliau menutup ceramah dengan bermuhasabah bersama jamaah, berdoa menengadahkan tangan ke atas memohon segala ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukan diiringi dengan lafadz Dzikir “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”. Sebagian besar jamaah hanyut dalam muhasabah, tetesan air hujan bersamaan dengan tetesan air mata jamaah. Dzikir dan munajat dipanjatkan kepada Allah Sang Maha Pencipta demi mengharap ridho dan ampunan dari-Nya.

Di akhir munajatnya para jamaah bersama-sama melafalkan Asmaul Husna kemudian ditutup dengan Tahlil dan doa penutup.

Check Also

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *